0 operator Online  
  Home Berita
Peraturan & Perundangan
•    PerGub No 34 Tahun 2013
•    PP NOMOR 24 TAHUN 1976
•    PP NO. 45 TAHUN 2007
•    PP NOMOR 48 TAHUN 2005
•    PP No.13 Tahun 2002
•    PP No.12 Tahun 2002
•    PP No.11 Tahun 2002
•    PP No.97 Tahun 2000
•    PP No. 8 Tahun 2003
PP NOMOR 48 TAHUN 2005
28 November 2006, 10:11 am

PRESIDEN

REPUBLIK INDONESIA

 

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 48 TAHUN 2005

 TENTANG
PENGANGKATAN TENAGA HONORER
MENJADI PEGAWAI NEGERI SIPIL

 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MASA ESA

 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
 

Menimbang

:

a. bahwa untuk kelancaran pelaksanaan sebagian tugas-tugas pemerintah dan pembangunan, terdapat pejabat instansi pemerintah mengangkat tenaga tertentu sebagai tenaga honorer;

b. bahwa tenaga honorer yang telah lama bekerja dan atau tenaganya sangat dibutuhkan oleh Pemerintah dan memenuhi syarat yang ditentukan dalam Peraturan Pemerintah ini, dapat diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil;

c.  bahwa sehubungan dengan hal huruf a dan b, dipandang perlu mengatur ketentuan mengenai pengangkatan tenaga honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil dengan Peraturan Pemerintah;

 

Mengingat

:

1. Pasal 5 ayat (2) Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

2.  Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok  Kepegawaian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia 3041), sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 43 Tahun 1999 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 169, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3890);

3.  Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun Nomor 4437), sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 3 tahun 2005;

4.  Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2000 tentang Formasi Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 194, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4015). Sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2003 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 122, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4332);

5.  Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 2000 tentang Pengadaan Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 195, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4016). Sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2002 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4192);

6.  Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan, dan Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 15, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4263).

 

 

 

MEMUTUSKAN  :

Menetapkan

:

PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGANGKATAN TENAGA HONORER MENJADI CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL .

 

Pasal 1

Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan :

1.  Tenaga honorer adalah seseorang yang diangkat oleh Pejabat Pembina Kepegawaian atau Pejabat lain dalam pemerintahan untuk melaksanakan tugas tertentu pada instansi pemerintah atau yang penghasilannya menjadi beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau Anggaran Pendapatan Belanja Daerah.

2.  Pejabat Pembina Kepegawaian adalah Pejabat yang berwenang mengangkat, memindahkan, dan memberhentikan Pegawai Negeri sipil di lingkungannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

3.  Instansi adalah instansi pemerintah pusat dan instansi pemerintah daerah propinsi dan kabupaten/kota.
 

Pasal 2

Pengangkatan tenaga honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil berdasarkan peraturan pemerintah ini, dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga tertentu pada instansi pemerintah.

Pasal 3

      (1)   Pengangkatan tenaga honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil diprioritaskan bagi yang melaksanakan tugas sebagai  :

a.   Tenaga guru;

b.   Tenaga kesehatan pada unit pelayanan kesehatan;

c. Tenaga Penyuluh di bidang pertanian, perikanan peternakan; dan

d. Tenaga teknis lainnya yang sangat dibutuhkan pemerintah.
 

(2)   Pengangkatan tenaga honorer sebagaimana dimaksud pada ayat
       (1) didasarkan pada usia dan masa kerja sebagai berikut :

a.    Tenaga honorer yang berusia paling tinggi 46 (empat puluh enam) tahun dan mempunyai masa kerja 20 (dua puluh) tahun atau lebih secara terus menerus.

b.   Tenaga honorer yang berusia paling tinggi 46 (empat puluh enam) tahun dan mempunyai masa kerja 10 (sepuluh) tahun atau lebih sampai dengan kurang dari 20 (dua puluh) tahun secara terus menerus.

c.   Tenaga honorer yang berusia paling tinggi 40 (empat puluh) tahun dan mempunyai masa kerja 5 (lima) tahun atau lebih sampai dengan kurang dari 10 (sepuluh) tahun secara terus menerus.

d.   Tenaga honorer yang berusia paling tinggi 35 (tiga puluh lima) tahun dan mempunyai masa kerja 1 (satu) tahun atau lebih sampai dengan kurang dari 5 (lima) tahun secara terus menerus.

 

Pasal 4

 

(1)   Pengangkatan tenaga honorer sebagaimana dimaksud dalam
        Pasal 3 ayat (1) dan ayat (2) hurup a, dilakukan melalui seleksi
      administrasi, disiplin, integritas, kesehatan dan kompetensi.

(2) Pengangkatan tenaga honorer sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (1) dan ayat (2) huruf b, huruf c, dan huruf d, selain melalui seleksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wajib mengisi/menjawab daftar pertanyaan mengenai pengetahuan tata pemerintahan/kepemerintahan yang baik, dan pelaksanaanya terpisah dari pelamar umum.

(3) Pengangkatan tenaga honorer sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 pada prinsipnya memprioritaskan tenaga honorer yang berusia paling tinggi dan/atau mempunyai masa kerja lebih banyak.

 

Pasal 5

(1)   Tenaga honorer yang telah selesai atau sedang melaksanakan tugas sebagai Pegawai tidak tetap atau sebagai tenaga honorer pada unit pelayanan kesehatan milik pemerintah, dapat diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri sipil  setelah melalui seleksi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1), tanpa memperhatikan masa kerja sebagai tenaga honorer, dengan ketentuan :

a.   Usia paling tinggi 46 (empat puluh enam) tahun;

b.  Bersedia bekerja pada unit pelayanan kesehatan di daerah
      terpencil, sekurang-kurangnya 5 (lima) tahun.

(2)   Daerah terpencil sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Gubernur/Bupati yang bersangkutan sesuai dengan criteria yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan

 

Pasal 6

(1)   Pengangkatan tenaga Honorer menjadi Calon Pegawai Negeri sipil  berdasarkan Peraturan Pemerintah ini dilakukan bertahap mulai Tahun Anggaran 2005 dan paling lambat selesai tahun 2009, dengan prioritas tenaga honorer yang penghasilannya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

(2)   Dalam hal ini tenaga honorer sebagaimana   dimaksud pada       ayat (1) seluruhnya telah diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri sipil sebelum tahun Anggaran 2009, maka tenaga honorer yang bekerja pada instansi pemerintah dan penghasilannya dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dapat diangkat menjadi Calon Pegawai Negeri sipil

 

Pasal 7

Pengangkatan tenaga honorer sebagaimana dimaksud dalam pasal 6, dilakukan secara objektif dan transparan

 

Pasal 8

Sejak ditetapkan peraturan Pemerintah ini, semua Pejabat Pembina Kepegawaian dan pejabat lain dilingkungan instansi, dilarang mengangkat tenaga honorer atau yang sejenis, kecuali ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

 

Pasal 9

(1)   Untuk kelancaran pelaksanaan pengangkatan tenaga honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil dibentuk Tim Koordinasi Tingkat Nasional dan Tim Tingkat Instansi.

(2)   Tim Koordinasi Tingkat Nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan oleh Menteri yang bertanggung jawab di bidang pendayagunaan aparatur negera.

(3)   Tim Tingkat Instansi ditetapkan oleh Pejabat Pembina Kepegawaian yang bersangkutan.

(4)   Untuk pelaksanaan pengangkatan tenaga honorer menjadi Calon Pagawai Negeri Sipil tingkat instansi daerah kabupaten/kota dikoordinasikan oleh Gubernur.

 

Pasal 10

(1) Penyiapan materi pertanyaan mengenai pengetahuan tata pemerintahan/kepemerintahan yang baik dibuat oleh Tim Koordinasi Tingkat Nasional.

(2)  Penggandaan materi pertanyaan sebagaimana dimaksud pada  ayat (1) dan pengolahan hasil pengisian/Jawaban dilakukan oleh :

a.   Pejabat Pembina Kepegawaian Pusat bagi tenaga honorer
      pada instansi pusat;

b.  Pejabat Pembina Kepegawaian Daerah Provinsi bagi tenaga
      honorer pada instansi daerah Provinsi; dan

c.  Gubernur bagi tenaga honorer pada instansi Daerah
     Kabupaten/Kota diwilayahnya.

 

Pasal 11

Biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan pengangkatan tenaga honorer menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil Tahun Anggaran 2005 sampai dengan Tahun Anggaran 2009 dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

 

Pasal 12

(1)   Pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini akan diadakan evaluasi
       setiap tahun.

(2)   Hasil evaluasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaporkan
        kepada Presiden

 

Pasal 13

Ketentuan pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini diatur lebih lanjut oleh Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara.

 

Pasal 14

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan peraturan pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.

 

 

 

Ditetapkan  di Jakarta

Pada tanggal 11 Nopember 2005

 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

                          ttd

 

DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO

 

Diundangkan di Jakarta

Pada tanggal 11 Nopember 2005

 

MENTERI HUKUM DAN HAK AZASI MANUSIA

REPUBLIK INDONESIA,

 

ttd

 

HAMID AWALUDIN

 

 

LEMBARAN NEGERA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2005 NOMOR 112

 

                  Salinan sesuai dengan aslinya

     DEPUTI MENTERI SEKRETARIS NEGARA
         BIDANG PERUNDANG-UNDANGAN,

 

 

ABDUL WAHID


Sumber http://www.bkn.go.id/perundangan/pp/48tahun2005.htm
[arsip berita/artikel]
 
Page created in: 0.032 seconds.